Sudah tahukah anda bahwa dalam diri kita dan sekitar kita ada hukum tarik menarik yang selalu mempengaruhi kita?
Siapapun orang yang berusaha untuk mencapai cita-cita dan menaiki tangga kesuksesan, akan mendapatkan rintangan atau kekuatan yang menariknya untuk berhenti atau untuk kembali dari
usahanya untuk terus melangkah.
Perumpamaannya seperti orang yang sedang menaiki tangga atau tebing untuk mencapai sebuah puncak tertentu. Orang yang sedang menaiki tangga pada dasanya dia sedang melawan gaya gravitasi bumi atau gaya tarik bumi. Bila pemanjat terpeleset atau tangganya patah, maka gaya gravitasi bumi akan menarik dan mengembalikan usaha pemanjat, sehingga pemanjat tersebut akan jatuh atau terjun bebas kembali ke bumi.
Ketika orang terjatuh atau terbanting akan memunculkan beberapa kemungkinan, di antaranya menjadi patah semangat, trauma atau sebaliknya memunculkan semangat yang lebih besar untuk menaklukkan rintangan tersebut, terus melangkah, dan tidak peduli berada kali dia terjatuh.
Tipe orang terakhir ini adalah tipe orang yang akan mampu mencapai puncak sukses.
Sebagaimana dalam menaiki tangga kesuksesan, seorang pemanjat memerlukan persiapan dan evaluasi dari setiap kesalahan sehingga resiko yang diterimanya tidak fatal. Misalnya puncak yang akan dinaiki setinggi 100 m, maka perlu persiapan yang menyangkut dirinya dan alat-alat (media ) pendukungnya.
Kuat fisik dan berani saja tidak cukup, karena kalau tangganya patah anda akan tetap terbanting atau terjun bebas.
Tangga yang kuat saja juga tidak cukup, karena kalau anda tidak punya kekuatan atau seorang penakut, maka anda tidak akan pernah naik. Sekalipun anda memiliki banyak potensi, seperti tangga dan tali yang kokoh.
Hal-hal yang bisa menjadi penghambat diri anda untuk mencapai kesuksesan bisa berasal dari dalam diri
maupun dari luar diri anda. Dari dalam diri misalnya merasa tidak mampu, merasa tidak pandai, merasa terlalu tua, merasa terlalu muda dan lain-lain.
Sedangkan dari luar diri bisa terkait dengan adanya ketidaksetujuan atau hambatan dari orang-orang dekat kita seperti orang tua, saudara, teman dekat atau istri. Atau merasa tidak punya tempat usaha, modal uang
dan apapun yang menghambat anda untuk menaiki tangga kesuksesan anda.
Hanya diperlukan keberanian, keuletan, ketekunan dan kesabaran agar mampu melewati rintangan (tantangan), serta mau belajar terus menerus dari setiap kesalahan, sehingga kalau anda tergelincir tidak membuat anda patah semangat atau mati. Tidak mundur ketika orang berteriak bahwa anda gagal, dan menghalangi anda untuk melangkah lagi.
Di dunia bisnis, tidak ada istilah bahwa anda akan benar-benar mati kalau mengalami kejatuhan atau kegagalan, karena yang terbunuh adalah mental anda, yang semula mungkin penuh semangat, namun tiba-tiba anda terjatuh dan mati semangat. Semangat dan impian yang mati itulah musuhnya.
Itulah kerja hukum tarik menarik, yang akan selalu menarik anda agar tidak semakin melangkah jauh dan tinggi, dan menakut-nakuti anda akan resiko jatuh dan terbanting.
Tetapi berlaku juga hukum tarik menarik yang sebaliknya, di mana kalau anda sanggup melawan daya tarik tersebut, kemudian mencapai sebuah tangga atau puncak keberhasilan, maka akan semakin mudah untuk mencapai puncak-puncak keberhasilan lainnya yang lebih tinggi.
Kekuatan anda yang tersimpan untuk mampu melawan daya tarik itu disebut sebagai potensi (energi yang tersimpan). Anda tidak akan pernah tahu seberapa besar kekuatan energi yang tersimpan dalam diri anda kalau anda tidak mau mencoba terus menerus.
Seperti ketika pertama kali ide pembuatan pesawat terbang mulai direalisasikan, banyak orang yang mencibir dan sinis, bahwa ide itu pasti gagal, karena menganggap bahwa melawan grafitasi bumi adalah hal yang mustahil.
Bahkan pada titik batas tertentu, banyak orang sukses yang tidak menyangka bahwa mereka memiliki kekuatan itu, dan mencapai puncak kesuksesan lebih tinggi dari yang pernah dibayangkannya.
Siapapun dari kita mampu mengeluarkan potensi (kekuatan/energi yang tersimpan), kalau mau terus berusaha dan mau belajar dari setiap kegagalan.
Orang Pintar Susah Jadi Orang Kaya Dan Sukses
Kebanyakan orang yang sukses dan kaya bukanlah dari kalangan terpelajar atau dengan kata lain tidak menempuh pendidikan wajib. Hal ini berdasarkan fakta yang ada. Tapi, bukan berarti kaum terpelajar dan akademisi tidak bisa sukses dan kaya. Cuman ada sesuatu hal yang menjadi penghambat bagi mereka yang bisa dianggap pintar untuk bisa sukses dan kaya.
Apa yang akan saya paparkan merupakan hasil survey saya dari beberap buku yang saya baca, seminar yang saya ikuti, dan fakta yang saya dapatkan secara langsung tanpa perantara. Salah seorang Bupati di Sulawesi Selatan bernama Rusdi Messe menjabat sebagai Bupati Sidrap Temuda di Indonesia. Mengawali karirnya hanya sebagai anak buah di sebuah perusahaan milik orang Cina tapi sekarang menjadi Bupati kaya berkat kegigihannya. Seluruh supply motor di Indonesia Timur menjadi tanggungannya jauh hari sebelum terangkat menjadi Bupati.
Anda kenal dengan mantan direktur Citi Bank Asia yang mengawali karir sebagai penjual rokok yang hanya tidur di trotoar jalan? Atau mungkin kenal dengan Bob Sadino yang dulunya hanya seorang pedagang dengan gerobak jualan? Atau bahkan Andrea Hirata yang dengan Filmnya yang sangat fenomenal Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi yang mengawali semua kesuksesannya dengan mimpi, menjadi buruh, menjadi nelayan, menjadi tukang pos, hingga sampai saat ini menjadi seorang penulis fenomenal di Indonesia. Atau mungkin anda kenal dengan saya? Seorang anak yang berjuang hidup di tanah rantau jauh dari rumah hanya untuk mewujudkan cita – cita bisa sukses ha ha ha.
Mengapa orang pintar susah untuk sukses dan kaya? Jawabannya karena mereka terlalu banyak perhitungan, takut mengambil resiko, malu untuk bertindak, tidak mau berkorban, dan tidak yakin apayang dia kerjakan berhasil. Malah orang yang dengan otak pas - pasan bisa dengan mudah meraih kesuksesan. Mengapa demikian? Saya ambil contoh satu yah, nah Djarum Black mengadakan lomba Black Innovation Award diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai ide inovasi terbaru. Nah, orang yang otaknya cerdas dengan mudah akan mendapatkan banyak ide di kepalanya. Akan tetapi, Mereka selalu bertanya dalam diri mereka apakah ide saya ini bisa juara dan berguna? Sebaliknya, orang yang otaknya hanya pas – pasan hanya terpikir untuk membuat dulu dan ikut berpartisipasi, kalah menang tidak ada masalah yang penting ada usaha.
Contoh yang paling nyata adalah apa yang saya alami. Diantara 500 lebih mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2008, hanya ada 8 orang yang mengajukan untuk bisa mendapatkan BKM (Bantuan Khusus Mahasiswa), nilai saya standar tapi cukup memenuhi untuk persyaratan beasiswa. Malah yang nilainya bisa dikatakan di atas rata mulai dari 3.5 sampai 4 tak satupun yang mengajukan. Pertukaran pelajar ke Eropa hanya diikuti 5 orang pendaftar dari Teknik Informtaika seluruh angkatan, pertukaran pelajar ke Amerika hanya saya yang dari Teknik Informatika yang mengajukan permohonan. Hal yang menjadi pertanyaan besar, di mana eksistensi mereka? Apakah bangsa ini sudah menjadi bangsa pemalas yang hanya mengandalkan otak tanpa aplikasi?




Filed Under : by Unknown
Minggu, 29 Agustus 2010